Rabu, 24 Februari 2016

Gaucho Brazil

Cara memasak dua makanan khas gaucho

DAGING SAPI PANGGANG
2 kilogram daging sapi, 500 gram garam kasar
Tusuklah dagingnya, dan taburi dengan garam. Pangganglah daging di atas api. Letakkan bagian yang berlemak di bagian bawah sampai berubah warna menjadi cokelat, lalu dibalik. Sebaiknya dagingnya berlemak, supaya ketika meleleh, lemaknya meresap ke daging dan menjadikannya gurih serta lebih empuk. Lakukan hal yang sama untuk daging babi, daging unggas, atau daging domba muda.—Untuk empat porsi.

NASI CARRETEIRO DENGAN DENDENG SAPI ASIN
500 gram dendeng sapi asin, 200 gram bawang bombai cincang, 60 mililiter minyak goreng, 600 mililiter air, 500 gram beras, 2 siung bawang putih cincang
Cucilah dendeng sapi asin, dan rendamlah dalam air selama sekitar delapan jam. Gantilah airnya beberapa kali selama itu. Irislah dendeng, tumislah di panci dengan minyak goreng, bawang putih, dan bawang bombai. Masukkan beras ke tumisan tersebut, lalu aduk rata. Tambahkan air, dan kemudian didihkan. Kecilkan api dan biarkan sambil sesekali diaduk agar matangnya merata. Jika nasinya sudah matang, gunakan garpu untuk memisah-misahkannya, dan sajikan dengan kacang merah tumbuk.—Untuk empat porsi.

Pertanian Modern Mengubah Dunia

Pertanian Modern Mengubah Dunia
 
BAGAIMANA Anda mendapatkan bahan makanan? Apakah Anda membelinya atau menanam sendiri? Belum lama berselang, sebagian besar penduduk bumi adalah petani yang hidup dari hasil bercocok tanam mereka sendiri. Tetapi sekarang, di beberapa negeri industri, hanya 1 di antara 50 orang yang bertani. Bagaimana terjadinya perubahan besar ini?
Kemajuan dalam efisiensi pertanian dimulai secara perlahan dan kemudian semakin pesat. Setiap perubahan itu mengharuskan jutaan keluarga membuat penyesuaian besar, dan proses ini masih terus berlanjut di seluruh dunia. Dengan melihat sekilas bagaimana pengaruh kemajuan dalam pertanian atas masyarakat, Anda dapat memahami keadaan dunia sekarang.

Perubahan Besar Mulai
Di luar dugaan, salah satu perubahan besar yang menyebabkan ditinggalkannya pertanian tradisional di Eropa terjadi pada abad ke-12, ketika horse collar, semacam pelindung dada dan leher pada kuda, diperkenalkan. Berkat alat itu, kuda bisa dipekerjakan tanpa takut tercekik. Jadi, kuda yang diperlengkapi dengan alat ini dapat menarik lebih kuat, lebih cepat, dan lebih tahan lama dibanding sapi. Dengan tenaga kuda, para petani dapat meningkatkan produksi mereka. Mereka dapat menggunakan bajak besi untuk lahan yang tadinya mustahil digarap. Satu langkah maju lainnya adalah diperkenalkannya jenis tanaman yang dapat menyuburkan tanah—seperti polong-polongan, kapri, semanggi, dan alfalfa—yang memperkaya tanah dengan nitrogen. Tanah yang lebih subur menghasilkan panenan yang lebih limpah.

Kemajuan awal ini memungkinkan para petani menanam tanaman pangan dalam jumlah sangat banyak dengan maksud untuk dijual. Alhasil, kota-kota bertumbuh pesat, karena orang-orang bisa membeli makanan dan bekerja sebagai produsen barang dan perajin. Dari kalangan produsen, perajin, dan petani yang kaya muncullah orang-orang yang menemukan mesin pertanian yang pertama.

Sekitar tahun 1700, Jethro Tull, seorang petani Inggris, menemukan alat penabur benih yang ditarik kuda yang menggantikan pekerjaan menabur dengan tangan, yang sering kali memboroskan benih. Pada tahun 1831, di Amerika Serikat, Cyrus McCormick menemukan mesin penuai yang ditarik kuda yang dapat memanen gandum lima kali lebih cepat daripada yang dapat dilakukan orang yang menggunakan sabit. Selain itu, kira-kira pada waktu yang sama, para pedagang mulai membawa pupuk ke Eropa dari pesisir Andes di Amerika Selatan. Penggunaan mesin dan pupuk meningkatkan hasil pertanian secara luar biasa. Tetapi, bagaimana pengaruhnya atas masyarakat?
Berkat kemajuan dalam pertanian terbukalah jalan bagi revolusi industri karena banyak makanan murah tersedia di kota. Revolusi ini mula-mula terjadi di Inggris sekitar tahun 1750-1850. Ribuan keluarga harus pindah ke kota-kota industri untuk bekerja di tambang batu bara, pabrik penuangan besi, galangan kapal, dan pabrik tekstil. Mereka tidak punya banyak pilihan. Petani kecil, yang tidak mampu menggunakan metode pertanian yang baru, hanya memperoleh sedikit uang dari panenan sehingga mereka tidak dapat membayar sewa. Mereka terpaksa meninggalkan ladang mereka dan tinggal di daerah-daerah perkotaan yang kumuh, padat, dan rawan penyakit. Keluarga-keluarga tidak lagi bertani bersama-sama karena kaum pria harus bekerja jauh dari rumah. Bahkan, anak-anak harus bekerja selama berjam-jam di pabrik-pabrik. Tak lama kemudian, negeri-negeri lain juga mengalami perubahan yang sama.

Teknologi Pertanian Menimbulkan Lebih Banyak Perubahan
Menjelang tahun 1850, beberapa negeri telah menjadi cukup kaya untuk mendanai riset dalam bidang pertanian. Penelitian ilmiah dalam bidang pertanian terus menghasilkan perubahan hingga masa kita sekarang. Misalnya, para pembudidaya tanaman mempelajari genetika dan mengembangkan tanaman yang panenannya lebih banyak atau lebih tahan terhadap penyakit. Para peneliti juga menemukan campuran yang tepat dari nitrat dan fosfat yang diperlukan untuk jenis tanaman atau tanah tertentu. Seraya tanaman mulai tumbuh, para buruh tani sibuk menyiangi lalang. Tetapi, banyak di antara mereka yang kehilangan pekerjaan sewaktu para ilmuwan mengembangkan herbisida yang ampuh yang memperlambat tumbuhnya lalang. Serangga, ulat, dan kumbang moncong adalah musuh bebuyutan dari orang-orang yang bercocok tanam. Namun, sekarang bagi para petani tersedia banyak bahan kimia untuk membasmi hampir setiap jenis hama.*

Kehidupan para peternak juga berubah. Berkat robot pemerah susu dan mesin pemberi makan ternak, seorang peternak dan pembantunya bisa mengurus hingga 200 ekor sapi. Para petani juga dapat menggemukkan anak-anak sapi dan babi lebih cepat dengan menaruh ternak itu bukan lagi di tempat terbuka melainkan di dalam bedeng khusus, sehingga suhu dan makanan mereka dapat diatur.

Hasil yang dicapai melalui teknologi pertanian sering kali spektakuler. Beberapa petani meningkatkan hasil produksi mereka seratus atau bahkan seribu kali lipat per pekerja dibandingkan dengan masa sebelum mereka memanfaatkan kemajuan teknologi. Tetapi, apa pengaruh perkembangan ini atas kehidupan masyarakat?

Gaya Hidup Petani Berubah
Mesin-mesin telah mengubah gaya hidup petani di banyak tempat. Kebanyakan petani dan buruh tani harus mempunyai keterampilan untuk menjalankan dan memelihara mesin-mesin yang canggih. Dan, semakin banyak petani yang bekerja sendirian. Tidak ada lagi gotong royong dalam menanam, mencangkul, dan memanen.

Di banyak negeri, muncul kelas petani baru, petani yang juga menjadi pebisnis berpendidikan tinggi yang berspesialisasi untuk menghasilkan secara massal beberapa atau hanya satu jenis produk pertanian. Ia telah banyak berinvestasi dalam bentuk lahan, bangunan, dan mesin. Namun, ia masih bergantung kepada orang lain. Perusahaan raksasa yang mengolah makanan dan jaringan supermarket mendikte bukan saja harga melainkan juga jenis, ukuran, dan warna hasil pertanian itu. Para insinyur pertanian merancang sistem produksi, dan perusahaan-perusahaan yang berspesialisasi di bidang itu memasok pupuk yang tepat, pestisida, dan bibit hibrida yang cocok dengan keadaan lahan pertanian mereka. Sudah banyak kemajuan yang dicapai dibandingkan dengan cara bertani leluhurnya. Tetapi, ia masih terus berjuang, dan ada orang-orang yang khawatir akan kemungkinan timbulnya dampak yang membahayakan dari teknik pertanian tertentu.

Para Petani Masih Menghadapi Krisis
Di negeri-negeri maju, masih banyak petani yang terpaksa kehilangan lahan mereka karena tidak dapat bersaing dengan perusahaan agrobisnis yang besar. Petani yang ingin tetap mempertahankan gaya hidup lama yang mereka sukai harus melakukan pekerjaan sambilan di bidang jasa, termasuk penyediaan akomodasi bagi para wisatawan atau memberikan pelayanan kepada orang yang berkemah, bermain golf, dan membuat barang kerajinan setempat. Yang lain lagi beralih ke bidang yang menghasilkan produk khusus seperti makanan organik, bunga, atau menangkar binatang-binatang langka.

Di negeri-negeri yang lebih miskin, di mana sebanyak 80 persen penduduknya mungkin hidup dari bercocok tanam, banyak petani kecil juga mengalami perubahan besar yang tidak menyenangkan. Perusahaan-perusahaan internasional yang menggunakan metode pertanian industri bisa jadi membeli kebanyakan lahan yang terbaik untuk menghasilkan panenan yang dapat dijual ke tempat yang jauh. Para petani kecil sering mengerjakan lahan yang tandus atau ladang yang kecil dengan satu atau dua mesin saja, kalaupun mereka memilikinya, untuk menghasilkan makanan bagi keluarga mereka.

Perpindahan penduduk secara besar-besaran dari desa ke kota yang sekarang terjadi di banyak negeri merupakan puncak proses yang sudah dimulai berabad-abad yang lalu. Perubahan dari gaya hidup agraris ke kehidupan perkotaan masih menguntungkan beberapa orang dan merugikan orang lain. Hanya ada sedikit pemerintah, kalaupun ada, yang menyediakan bantuan praktis bagi orang-orang yang terkena dampaknya.
- Sedarlah 

Senin, 22 Februari 2016

Pasar Inpres Biak akan dibangun kembali

KPDE Biak Numfor
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor didukung dana dari pusat akan membangun kembali Pasar Inpres Biak, setelah beberapa waktu lalu mengalami kebakaran. Sesuai gambar yang sudah diserahkan kepada Presiden RI, bahwa Pasar Inpres Biak akan dibangun tingkat dua dengan paduan pasar modern dan tradisional, termasuk pembangunan terminalnya.
Bupati Kabupaten Biak Numfor, Thomas A.E. Ondy, SE saat ditemui wartawan juga membenarkan rencana pembangunan Pasar Inpres tersebut. “Kita masih menunggu jadwal kunjungan Bapak Menteri Perdagangan ke Biak, karena beliau rencananya akan berkunjung ke Biak, dan sekaligus kami undang untuk peletakkan batu pertama pembangunan Pasar Inpres,” terang Bupati Ondy.
Ditanya kemungkinan adanya kecemburuan dari pedagang di Pasar Darfuar, Bupati Ondy mengaku sudah melakukan antisipasinya, karena Pasar Inpres harus dibangun kembali.
Pembangunan tersebut juga sebagai upaya memperindah Kota Biak untuk persiapan Adipura. Dijelaskan Bupati, menyangkut Adipura, instansi terkait seperti Badan Lingkungan Hidup, Dinas Kebersihan dan Dinas PU sudah melakukan rapat secara intensif agar Kabupaten Biak Numfor kembali mendapat Piala Adipura yang ketiga kalinya. “Saat ini kita lakukan pengembangan kota, seperti perbaikan trotoar dan drainase, dan semua itu sudah kita laporan ke Kementerian Lingkungan Hidup,” ungkap Bupati Ondy.
Dari pantauan KPDE, kurang lebih sebulan ini para pekerja terlihat sibuk memperbaiki drainase dan membangun trotoar di jalan-jalan protocol Kota Biak. Tidak main-main trotoar ‘dilapisi’ dengan keramik sehingga menambah keindahan dan kerapian Kota Biak. Untuk itu di beberapa kesempatan, Bupati Thomas Ondy mengimbau kepada semua warga Biak agar turut menjaga dan merawat fasilitas umum itu. “Kalau masyarakat makan pinang, tolong jangan meludah ke trotoar,” imbau Bupati Ondy. (danang sadana)

Kamis, 18 Februari 2016

Foto

Foto Bosnik

Laut Adorbari

Laut Adorbari


Laut Ufde

Laut Woniki / Ufde


Laut Inof (Segara Indah)

Laut Inof (Segara Indah)


Laut Orwer

Laut Orwer


Kali Ufde Woniki

Kali Ufde - Woniki



Laut Adorbari

Pantai Bosnik - Adorbari